Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the benqu-extension domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /DATA/k3596128/public_html/tertorial_v2/wp-includes/functions.php on line 6121

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wp-stats-manager domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /DATA/k3596128/public_html/tertorial_v2/wp-includes/functions.php on line 6121
Di awal Kepemimpian Mahatir, Malaysia Kembali Adili Delapan Intelijen Negara Korup - Teritorial.Com
Dunia

Di awal Kepemimpian Mahatir, Malaysia Kembali Adili Delapan Intelijen Negara Korup

Kuala Lumpur, Teritorial.Com – Memasuki era baru pemerinthan Mahathir Mohamad, Malaysia kini gencar “bersih-bersih” barisan agen intelijen yang dianggap merugikan negara bahkan juga saat Najib Razak Berkuasa, Sekelompok mantan agen dinas intelijen Malaysia, termasuk ketuanya, kini tengah diperiksa terkait penyalahgunaan dana pemerintah.

Demikian disampaikan seorang anggota senior Komisi Pemberantasan Korupsi Malaysia (MACC), Kamis (30/8/2018). Investigasi yang dilakukan MACC ini adalah bagian dari pembersihan yang dilakukan pemerintahan PM Mahathir Mohamad terhadap dugaan korupsi yang dilakukan sang pendahulu, Najib Razak. Awal pekan ini, MACC menangkap delapan mantan pejabat Dinas Intelijen Luar Negeri Malaysia (MEIO), termasuk sang mantan ketua Hasanah Abdul Hamid.

Mereka dicurigai menyalahgunakan anggaran negara sebesar 12 juta dolar AS atau sekitar Rp 176, 7 miliar. “Kami mencoba mengungkap kemungkinan penyalahgunaan yang dilakuan para pejabat ini dan penyalahgunaan anggaran yang kami yakin adalah dana pemerintah,” kata deputi komisioner MACC bidang operasi, Azam Baki.

Sebelumnya, penyidik MACC menyita uang tunai sebanyak 6,5 juta dolar dari berbagai lokasi termasuk markas besar MEIO di kantor perdana menteri di Putrajaya, ibu kota administratif Malaysia. Azam menambahkan, MACC juga menangkap seorang pengusaha Malaysia yang berstatus permanent residence di Inggris. “Investigasi masih terus berlangsung untuk mencari sisa dana ini,” lanjut Azam.

Azam menambahkan, MACC masih menyelidiki asal usul dana tersebut tetapi tidak menepis kemungkinan uang tersebut terkait dengan uang miliaran dolar yang digelapkan dari perusahaan investasi negara 1Malaysia Development Berhad (1MDB). Uang itu diyakini masuk ke Malaysia dari negara lain.

Namun, Azam menolak untuk menyebutkan negara tempat uang itu sempat mampir. Saat ini, pemerintah di enam negara termasuk Swiss dan Amerika Serikat sedang melakukan investigasi terkait hilangnya uang miliaran dolar dari 1MDB yang didirikan Najib pada 2009. Departemen Kehakiman AS mengatakan lebih dari 4,5 miliar dolar AS dana tersebut telah disalahgunakan.

Sebagian uang tersebut digunakan untuk membeli jet pribadi, perahu layar, lukisan karya Picasso, perhiasan, dan properti. Najib sendiri didakwa telah melakukan pencucian uang dan korupsi tekait uang sebesar 10 juta dolar AS yang dikirimkan ke rekeningnya dari salah satu unit 1MDB. Sejauh ini Najib terus menyatakan dirinya tidak bersalah.

Sony Iriawan

About Author

Baca Berita Lebih banyak

Dunia

“Vigilant Ace”: Latihan Militer AS-Korea Selatan

Pyongyang, Teritorial.com – Senin (4/12/2017) akan menjadi hari pertama untuk latihan militer bersama Amerika Serikat (AS) – Korea Selatan dengan melibatkan
Dunia

Respon “Abu-abu” AS terhadap Inisiasi Indonesia dalam Kerja Sama Intelijen “Our Eyes”

Jakarta, Teritorial.com – Segala bentuk kerja sama dalam menghadapi ancaman terorisme dan radikalisme tidak akan dapat dilakukan secara optimal apabila tidak