Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the benqu-extension domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /DATA/k3596128/public_html/tertorial_v2/wp-includes/functions.php on line 6121

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wp-stats-manager domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /DATA/k3596128/public_html/tertorial_v2/wp-includes/functions.php on line 6121
Ekonom Ungkap 3 Faktor Penyebab Harga Beras Melonjak, karena Sibuk Pemilu? - Teritorial.Com
Ekonomi

Ekonom Ungkap 3 Faktor Penyebab Harga Beras Melonjak, karena Sibuk Pemilu?

Jakarta, Teritorial.com – Lonjakan harga beras terjadi di seluruh wilayah Indonesia pada awak tahun 2024. Harga beras yang melambung tinggi menuai keluhan dari berbagai kalangan masyarakat. Harga beras terus mengalami kenaikan hingga awal tahun 2024. Berbagai asumsi pemicu kenaikan harga beras bermunculan, salah satunya terkait kesibukan pemilu dan tahun politik.

Pengamat ekonomi sekaligus akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB), Jaenal Effendi mengungkapkan bahwa setidaknya ada tiga faktor kenaikan harga beras pada awal 2024.

Di antara ketiga faktor tersebut, tidak ada satu faktor pun yang terkait dengan unsur politik. “Pemicu utama kenaikan harga beras kalau dari sisi ilmu ekonomi bahwa terjadi excess demand (permintaan yang melebihi jumlah pasokan),” kata Jaenal.

Jaenal menambahkan, “Pemicu kenaikan harga beras paling tidak ada tiga hal, yang pertama terhambatnya produksi beras karena fenomena alam.”

Ia juga menjelaskan bahwa fenomena alam seperti badai El-Nino yang terjadi beberapa waktu lalu menyebabkan produksi padi terkendala karena petani terpaksa harus terlambat menanam padi. Akibatnya, Indonesia memasuki musim panen raya menjadi lebih lama dari biasanya yakni diperkirakan akan terjadi pada rentang bulan Maret-April 2024.

Kemunduran waktu panen ini membuat persediaan beras kian yang ada tidak dapat memenuhi permintaan pasar. Bahkan menurut Jaenal, pada awal 2024 ini Indonesia mengalami defisit persediaan beras. Hal ini senada dengan informasi yang tertera pada laman resmi Badan Pangan Nasional (Bapanas) bahwa Indonesia mengalami defisit persediaan beras sebanyak 2,8 juta ton.

“Faktor yang kedua (dalam kenaikan harga beras) adalah tingginya ongkos produksi mulai dari tanam sampai panen,” lanjut Jaenal.

Menurut Jaenal, salah satu contoh pemicu tingginya ongkos produksi disebabkan oleh mahalnya harga pupuk. Terlebih, Indonesia masih bergantung kepada negara lain dalam hal ketersediaan pupuk. Sementara itu, negara penyedia pupuk seperti Ukraina dan Rusia saat ini tengah dilanda konflik yang berakibat pada terhambatnya ekspor dan distribusi pupuk ke negara lain.

Faktor ketiga kenaikan harga beras dalam negeri dipicu oleh banyaknya negara yang membatasi kegiatan ekspor beras sehingga Indonesia mengalami hambatan pada proses impor beras.

“Sejak pandemi Covid-19, puluhan negara menahan untuk tidak mengekspor beras. Hal ini yang kemudian menyebabkan negara-negara yang mengalami defisit terjadi lonjakan harga,” jelas Jaenal.

Pemberian bantuan pangan kepada masyarakat merupakan salah satu cara pemerintah menjaga kestabilan harga beras. Jaenal mengungkapkan bahwa strategi ini diperlukan agar kenaikan harga beras tidak langsung melambung tinggi karena jika harga terlanjur tinggi, pemerintah akan lebih sulit menjaga stabilitas harga beras di Indonesia.

Sebagai informasi, kenaikan harga beras dialami juga oleh berbagai negara di dunia. Kendati mengalami kenaikan, harga beras di Indonesia masih terbilang murah jika dibandingkan dengan negara lain seperti Amerika Serikat (Rp71.878/kg) dan Jepang (Rp55.807/kg).

Melansir Databoks, harga beras di Indonesia menunjukkan angka kenaikan pertahun sekira 14 persen. Persentase kenaikan harga beras premium dalam kurun waktu Januari – Desember 2023 sebanyak 14,08%, dari harga Rp13.140 menjadi Rp14.990 per kilogram (kg).

Sementara untuk beras medium, kenaikan harga pertahun menunjukkan persentase sebanyak 14,20%, dari harga Rp11.550 menjadi Rp13.190 per kg.

Olivia Astari

About Author

Baca Berita Lebih banyak

Ekonomi

Kisah Si Radja Cendol di Sequis Talk

Jakarta, Teritorial.com –  Berawal dari sebuah gerobak cendol sederhana terbuat dari kayu, Danu Sofwan mengawali bisnisnya dengan berjualan cendol yang
Ekonomi

Lonjakan Harga Tinggi, Bitcoin Dilarang BI

 Jakarta,  Teritorial.com – Memasuki era dimana hampir semuanya dapat  didigitalisasikan, Bitcoin menjadi salah satunya fenomena yang sedang marak diperbincangkan, terkait