Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the benqu-extension domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /DATA/k3596128/public_html/tertorial_v2/wp-includes/functions.php on line 6121

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wp-stats-manager domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /DATA/k3596128/public_html/tertorial_v2/wp-includes/functions.php on line 6121
Impor Beras Mendag Sisakan Pertanyaan Besar, Ini Alasanya - Teritorial.Com
Ekonomi

Impor Beras Mendag Sisakan Pertanyaan Besar, Ini Alasanya

Jakarta, Teritorial.Com – Menteri Perdagangan Enggariasto Lukita telah memastikan akan melakukan Impor beras kualitas khusus dari Thailand dan Vietnam akan masuk ke Indonesia pada akhir Januari 2018.

Alasannya, agar tidak mengganggu petani saat musim panen tiba di Februari 2018 nanti. Enggar juga tidak mau berandai – andai sekalipun sedangkan ada kelangkaan beras di dunia.

Menanggapi hal itu, akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB)-Jawa Barat, Prima Gandhi, mempertanyakan tindakan pemerintah yang berkeinginan untuk melakukan impor beras khusus di akhir Januari tahun 2018 tersebut.

Diungkapkan Prima sapaanya, dirinya melihat kejanggalan harga beras pada awal 2018, antara lain di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur.

Menurut dia dari yang ada dalam jaringan Internet yang dirilis PIBC pada 3 Januari 2018 terlihat, beras termurah yang dikenal beras medium masih di harga Rp 7.800 per kilogram, stabil sejak 9 November 2017 hingga 3 Januari 2018.

“Tapi tiba-tiba pada tanggal 3 hingga 4 Januari naik tinggi menjadi Rp 8.400. Setelah itu, pada 5 hingga 8 Januari menjadi Rp 8.800, terus tanggal 9 hingga 12 Januari menjadi Rp 8.900 per kilogram,” ujar Prima.

Di sisi lain, stok beras harian PIBC pada periode tersebut berada di atas normal, yaitu 32.001 ton hingga 47.013 ton. Dengan begitu sebenarnya untuk pasokan tidak ada masalah.

“Tapi, mengapa harga naik? “Justru ini sumber masalahnya,” kata Prima lagi.

Dengan kondisi seperti itu, lanjutnya, mestinya hargalah yang dikendalikan, bukan bukan impor. Ada bebera cara untuk mengendalikan harga beras itu.

Pertama, lanjut dia, operasi pasar secara masif, bukan setengah hati. Kedua, percepat penyaluran beras Program Rakyat Sejahtera (Rastra) untuk bulan Januari ini. Ketiga, perlancar arus distribusi dan logistik beras dengan intensifkan Satgas Pangan.

“Keempat, tak perlu impor karena momentumnya tidak tepat,” tutur Prima.

Sementara itu, rekan sealmamater Prima, Dwi Andreas Santoso, memandang kebijakan pemerintah untuk melakukan impor beras pada awal tahun ini terbilang cukup terlambat. Seharusnya, impor dilakukan sejak Juli 2017. Karena, kini beras yang ingin diimpor dari Thailand dan Vietnam kemungkinan besar sudah diborong Cina.

“Itu sudah terlambat, seharusnya impor dilakukan sejak Juli. Karena, kita tahu, harga beras dari April 2017 sudah tinggi,” kata Dwi, seperti dikutip sebuah media, Jumat juga.

Menurut Dwi, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab fluktuatifnya harga beras sejak tahun lalu, antara lain dipicu oleh kasus PT Indo Beras Unggul (IBU). Dengan adanya kasus ini, pedagang dengan terpaksa melepaskan stok beras untuk mengendalikan harga di pasaran.

“Peningkatan harga beras juga disebabkan hebohnya kasus PT IBU hingga harga beras naik di Juli 2017,” ujarnya.

Dirinya sebagai guru besar dari perguruan tinggi pertanian paling prestisius di Tanah Air mengaku telah mengingatkan soal kekurangan pasokan beras di Triwulan IV-2017.

Dwi ketika itu telah mengungkapkan, surplus stok beras yang diklaim Kementerian Pertanian (Kementan) sebesar 17,4 juta ton pada tahun 2017 tidak realistis.

Apalagi, Bulog saja hanya bisa menampung 13 juta ton beras selama setahun, sementara konsumsi beras nasional setahun hanya separo dari 17,4 juta ton.

Rosito Elviana

About Author

Baca Berita Lebih banyak

Ekonomi

Kisah Si Radja Cendol di Sequis Talk

Jakarta, Teritorial.com –  Berawal dari sebuah gerobak cendol sederhana terbuat dari kayu, Danu Sofwan mengawali bisnisnya dengan berjualan cendol yang
Ekonomi

Lonjakan Harga Tinggi, Bitcoin Dilarang BI

 Jakarta,  Teritorial.com – Memasuki era dimana hampir semuanya dapat  didigitalisasikan, Bitcoin menjadi salah satunya fenomena yang sedang marak diperbincangkan, terkait