Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the benqu-extension domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /DATA/k3596128/public_html/tertorial_v2/wp-includes/functions.php on line 6121

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wp-stats-manager domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /DATA/k3596128/public_html/tertorial_v2/wp-includes/functions.php on line 6121
Tragedi Kelam Indonesia pada 13 Mei 1998, Kekerasan Rasial terhadap Warga Etnis Tionghoa - Teritorial.Com
Healing

Tragedi Kelam Indonesia pada 13 Mei 1998, Kekerasan Rasial terhadap Warga Etnis Tionghoa

Jakarta, Teritorial.com – Warga etnis Tionghoa di Indonesia tak akan lupa dengan tragedi mencekam yang terjadi 25 tahun silam.

Saat itu, warga etnis Tionghoa diamuk oleh massa yang mengatasnamakan orang Pribumi atau orang asli Indonesia.

Toko-toko yang sebagian besar milik warga etnis Tionghoa dihancurkan dan dipasangi spanduk Milik Pribumi dan Pro-Reformasi. Kemudian barang-barang di toko mereka dijarah para perusuh.

“Ada bakar ban, ada bakar rumah. Gak taunya kerusuhan itu,” jelas seorang penjual bakso, Parmin yang berjualan di Jakarta.

Tak pelak tragedi mencekam itu memuncak menjadi tindak pemerkosaan dan pembunuhan sebagian wanita keturunan Tionghoa.

Komnas Perempuan menyebut seorang siswi SMU berusia 18 tahun keturunan Tionghoa, Ita Martadinata Haryono disiksa, diperkosa, dan dibunuh karena aktivitasnya sebagai relawan kemanusiaan dalam tragedi mencekam yang terjadi pada 13-15 Mei 1998.

Tragedi mencekam itu terkonsentrasi di Jakarta, Medan, sampai Surakarta. Sudut-sudut kota lumpuh dibuatnya.

Pemicu dari tragedi mencekam itu tak lain dan tak bukan disebabkan krisis moneter di beberapa negara Asia, termasuk Indonesia sejak 1997.

Tidak sedikit perusahaan gulung tikar yang menyebabkan jutaan pegawai kehilangan mata pencaharian. Tingkat pengangguran pun meningkat tajam.

Kondisi perekonomian semakin diperparah karena harga bahan pokok melonjak tinggi. Akibatnya, masyarakat tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

Bukan hanya itu, kerusuhan memuncak sesaat setelah empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas terkena timah panas oleh penembak gelap pada 12 Mei 1998. Keempatnya adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Herie.

Keempatnya, bersama dengan mahasiswa lain, melakukan demonstrasi guna menggulingkan Soeharto dari jabatannya sebagai Presiden RI kedua. Soeharto sudah duduk manis di kursi presiden selama hampir 32 tahun.

Soeharto yang kala itu berada di Kairo, Mesir bergegas kembali ke Indonesia. Tepatnya pada 21 Mei 1998, mantan Panglima Angkatan Bersenjata RI kelima itu memutuskan untuk mengundurkan diri.

Kekuasaannya kemudian diberikan kepada wakilnya, B.J. Habibie. Habibie memegang jabatan presiden ketiga Indonesia sampai 1999 sebelum digantikan oleh Megawati Soekarnoputri.

Olivia Astari

About Author

Baca Berita Lebih banyak

Healing

Dikukuhkan Sebagai ‘Ibu Raksa Tri Anggana Tantri’, Ini Pesan Istri Panglima

Jakarta, Teritorial.Com – Istri Panglima TNI Hadi Tjahjanto, Nanny Hadi Tjahjanto selaku Ketua Umum Dharma Pertiwi dan IKKT Pragati Wira Anggini dikukuhkan sebagai “Ibu
Healing

Khotbah di Istiqlal, Aa Gym Bicara Soal Orang ‘Jatuh’ karena Lisan

Jakarta, Teritorial.com – Abdullah Gymnastiar memberikan khotbah bertema ‘Meraih Kemenangan Pribadi Menuju Kemenangan Umat’ saat salat Idul Fitri 2018 di