Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the benqu-extension domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /DATA/k3596128/public_html/tertorial_v2/wp-includes/functions.php on line 6121

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wp-stats-manager domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /DATA/k3596128/public_html/tertorial_v2/wp-includes/functions.php on line 6121
Kritik Jokowi, Titiek Soeharto Ungkit Swasembada Pangan - Teritorial.Com
Nasional

Kritik Jokowi, Titiek Soeharto Ungkit Swasembada Pangan

Jakarta, Teritorial.Com – Narasi rindu daripada kepemimpinan Orde Baru di jaman Soeharto kembali dibangkitkan oleh keluarga cendana terutama Titiek Soeharto yang saat ini ikut dalam kampanye mendukung Paslon Prabowo-Sandiaga.

Bertujuan mengkritik kinerja pemerintahan Joko Widodo yang dianggap tidak mampu mengelola pertanian dan cenderung lebih mengutamakan impor dalam menjaga pasokan dan kenaikan harga barang pokok, Titiek Soherto mengungkit zaman Orde Baru (Orba) yang pernah swasembada pangan.

Pencapaian dan keberhasilan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto disebut akan kembali tercapai jika Prabowo Subianto terpilih menjadi presiden. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati, dia memaparkan berbagai kebijakan ekonomi di era Orba, mulai dari kebijakan pangan, fiskal, makro ekonomi, hingga kemiskinan.

Pertama kebijakan di sektor pangan, Enny mengatakan pemerintah kala itu menempatkan petani sebagai subjek. Oleh karenanya, berbagai kebijakan dibuat secara optimal untuk menopang kegiatan pertanian, termasuk dari sisi pembiayaan buat petani.

Di samping itu, infrastruktur pertanian di era Orba juga digenjot untuk mendukung ketahanan pangan. “Termasuk bangun irigasi. Dulu kan waduk waduk dibangun, kan termasuk dengan Bengawan Solo dan sebagainya. Itu kan konkret, gimana infrastruktur pertanian jadi perhatian,” ujarnya.

Tak hanya dari sisi infrastruktur, pemerintahan di era Orba juga membangun kelembagaan berupa penyuluhan di bidang pertanian. Fungsinya adalah memberi pendampingan buat petani yang butuh pemahaman lebih. Kala itu Bulog juga berperan untuk menyerap gabah milik petani, sekaligus sebagai penyangga stok pangan nasional.

Bahkan Secara terbuka Titiek menyampaikan bahwa pencapaian dan keberhasilan Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto disebut akan kembali tercapai jika Prabowo Subianto terpilih menjadi presiden. “Kita dulu pernah swasembada zamannya Pak Harto dan diberi penghargaan oleh internasional,” kata Titiek di hadapan relawan pendukung Prabowo-Sandi, Cilegon, Rabu (14/11/2018).

Ia meminta relawan melakukan kampanye, jika terpilih sebagai presiden, Prabowo akan meneruskan program-program yang telah berhasil dicapai Soeharto. “Sebenarnya kita bisa swasembada asal mau, jadi kita berkampanye bahwa kita akan meneruskan program Pak Harto yang berhasil untuk menyejahterakan rakyat,Jadi kita jangan segan-segan untuk menyampaikan keberhasilan yang pernah dicapai Orde Baru akan kita capai kembali,” tuturnya.

Sony Iriawan

About Author

Baca Berita Lebih banyak

Nasional

Munas NU Sepakat Tingkatkan Kontribusi Memperkokoh Nilai Kebangsaan

Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Musyawarah Besar NU dari waktu ke waktu selalu memberi kontribusi penting bagi bangsa Indonesia. Tema
Nasional

Kedubes AS sampaikan penolakan Panglima TNI kesalahan administratif

Jakarta, Teritorial.com- Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta menyampaikan bahwa penolakan masuk Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo ke wilayah AS