Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the benqu-extension domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /DATA/k3596128/public_html/tertorial_v2/wp-includes/functions.php on line 6121

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wp-stats-manager domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /DATA/k3596128/public_html/tertorial_v2/wp-includes/functions.php on line 6121
Pakar Psikologi: Sistem Logika Sasaran Terhadap Doktrinasi - Teritorial.Com
Opini

Pakar Psikologi: Sistem Logika Sasaran Terhadap Doktrinasi

Jakarta, Teritorial.com – Psikolog Tika Bisono menjelaskan, sistem logika memiliki peranan penting apakah seseorang mudah terdoktrin terhadap suatu teori atau tidak. Manusia dengan pemahaman lemah, tidak bisa berargumentasi secara logika cenderung mudah diajak melakukan hal-hal yang sifatnya kejahatan.

Tidak jarang, mereka menganggap tindakan tersebut sebagai kebaikan. Tika menjelaskan, seseorang dengan sistem logika yang mudah dibalik-balik menjadi target utama doktrin. Ini tidak terkait dengan Intelligence Quotient (IQ) atau kecerdasan intelektual. “Banyak sarjana, master bahkan doktor mudah dipengaruhi,” ujarnya dikutip dari republika, Selasa (15/5).

Cara berpikir mereka cenderung terbalik, entah itu saat menerjemahkan sendiri ke pola pikir mereka atau ada orang yang lihai membolak-balikkan pola pikir. Akibatnya, mereka kerap salah persepsi, termasuk menganggap kejahatan menjadi kebaikan.

Misalnya, memiliki persepsi bahwa bom bunuh diri merupakan cara baik demi banyak orang. Seseorang yang sudah terdoktrin sudah tidak memiliki lagi batasan yang jelas antara realita dengan non-realita dan fakta dengan non-fakta. Pola pikir mereka telah dikorbankan untuk sudut pandang yang belum tentu benar.

“Mereka seperti lost in space, tidak memiliki pegangan kecuali doktrin itu sendiri,” ucap Tika yang mengajar di Universitas Mercu Buana, Jakarta, itu.

Masuknya doktrin ini bisa melalui berbagai cara, termasuk lewat komunitas terdekat. Karena sudah terbiasa beinteraksi dan menganggap komunitas tersebut benar dalam segala hal, kekuatan doktrin pada seseorang semakin kuat.

Tika menjelaskan, untuk mengantisipasi doktrin-doktrin yang berkembang, peran keluarga dan pemerintah harus lebih diintesifkan. “Sementara keluarga berperan dalam urusan pengawasan sebagai komunitas terkecil, pemerintah wajib melindungi dalam sistem pendidikan dan perundangan,” tuturnya. (SON)

Tika Bisono Pakar Psikologi

Sony Iriawan

About Author

Baca Berita Lebih banyak

Opini

Cyber Army dan Cyber Militia

Terdapat beberapa kejadian di dunia maya yang dianggap oleh beberapa pihak sebagai suatu “perang siber”. Salah satu contoh yang menarik
Opini

Laut Cina Selatan Masa Depan Geostrategi Tiongkok

Disamping letaknya yang sangat strategis bagi jalur pelayaran Internasional, kekayaan akan sumber daya alam berupa kandungan minyak dan gas alam